SOPIR KAMPUNG


Sumber gambar pixabay.com
Beberapa hari ini, tiba-tiba saja aku sering ingat kakak sepupu ku yang di kampung. Sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya. Saat dia masih bekerja di kota Jogja, sering aku mengajaknya keluar untuk nongkrong di angkringan. Kami berdua bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk omong kosong yang kami anggap berisi. Sepertinya, aku merindukan saat-saat seperti itu. Handphon ku tiba-tiba berdering. Aku lihat di layar, tertera nama kakak ku. Wah, tidak tahu kenapa rasanya seneng sekali, menerima telepon darinya.

“Halo”
“Halo mas”
“Kamu di mana?”
“Aku di rumah mas”
“Aku mau mampir tempat kamu”
“Lho, kamu lagi di Jogja?”
“Iya. Aku sambil nyetir ini. Aku langsung ke rumah mu ya”
“Oke mas. Aku tunggu”

Tak lama, ada suara mobil berhenti di depan rumah kontrakan ku. Aku keluar dan aku lihat kakak sepupu ku masih sama, dengan ekspresi wajah yang ceria, keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah ringan ke teras rumah. Aku mengajaknya masuk, tapi ia masih ingin duduk di kursi teras rumah. Aku tawarkan dia minuman, kopi atau teh. Ia meminta teh. Jarang sekali kakak ku ini minum kopi. Katanya asam lambungnya naik kalau minum kopi. Aku segera ke dapur membuat minuman teh untuknya dan kopi untuk ku. Aku penasaran apa kesibukan dia sekarang. Setelah kopi dan teh jadi aku membawa ke teras dan seperti di angkringan, kami mulai ngobrol ngalor ngidul alias gak jelas.

“Mas, mau kemana ini kok bawa mobil L 300?”
“Aku mau ke Prawirotaman”
“Ada apa?”
“Jemput turis”
“Ha? Jemput turis? Orang luar negeri? Wong londo?”
“Ia. Namanya juga turis, ya dari luar negeri lah”
“Terus, di mobil diam apa ngomong-ngomong mas sama turisnya?”
“Ya ngomong lah. Masa diam saja. Turisnya bingung kalau sopirnya diam saja”
“Hem... terus pakai bahasa apa?”
“Yo bahasa inggris, mosok bahasa Jawa”
“Kamu bisa bahasa Inggris?”
“Ya bisa lah. Aku kok gak bisa. Ha ha ha”
“Hah? Yang bener?”

Aku masih belum percaya kakak sepupu ku, yang setengah tahun lalu  tidak pernah membicarakan soal turis, soal bahasa Inggris, malam ini, ia terlihat begitu senang menceritakan pengalamanya menjadi sopir travel yang mengantar para turis dari Jogja ke Bromo dan Bali. Saat aku tanya, apa dia sudah tidak kerja di dunia kelistrikan, seperti yang dijalaninya di Jogja setengah tahun yang lalu, ia jawab dengan enteng. Kerjaan lagi sepi. Di kampung juga belum panen. Mau tidak mau yang ambil kerjaan yang ada. Begitu katanya.

“Sebenarnya, sudah lama aku ditawari jadi sopir di travel ini.  Antar jemput turis dari Jogja ke Bromo dan Bali”
“Lha, terus kenapa gak dari dulu diambil? Kenapa baru sekarang?”
“Hem... sebenarnya, aku ambil kerjaan ini karena terpaksa. Waktunya bayar utang, gak ada pemasukan. Di tawari jemput ini, mau gak mau aku ambil. Ini sudah yang ke tiga kalinya”
“Hah? Jadi sudah tiga kali ke Jogja dan tidak mampir ke sini?”
“Waktu jemput turis pertama kali sudah tidak kepikiran mampir tempat kamu. Isinya Cuma takut”
“Takut apa?”
“Ya takut nanti kalau ketemu turisnya, terus tidak bisa ngomong bagaimana. Kalau ngomongnya salah bagaimana. Kalau turisnya marah bagaimana? Sebernarnya itu yang paling menakutkan. Takut tidak bisa ngomong bahasa Inggris”
“Terus... terus... akhirnya bisa ngomong bahasa Inggris?”
“Ya bisa. Tapi keringat dingin terus setiap kali ngomong bahasa Inggris”
“Wah... kayak seru ya mas”
“Seru kalau dengar ceritanya begini. Kalau pas kejadian keringat dingin terus”
“Lha seperti apa kejadianya? Apa ada yang menakutkan, mencekam atau ada yang lucu. Ceritain mas”

Sebelum memulai ceritanya, kakak sepupu ku menyalakan sebatang rokok dan membenarkan posisi duduknya, seperti seorang kakek yang hendak mendongengi cucunya. Ia seruput beberapa teguk teh anget yang aku sajikan. Mengambil beberapa potong kue kering dan mengunyahnya. Rasanya lama sekali menunggu ceritanya. Malah ngemil terus.

“Mas, mana ceritanya”
“Hem... kalau kamu yang mengalami pasti pingsan”
“Lho kok bisa?”
“Kamu kan tidak bisa bahasa Inggris. Jadi setiap melewati tempat misata, misalnya lewat Candi Prambanan, harus tanya. Apakah mau mampir ke Candi Prambanan?”
“Oh... terus”
“Bahasa Inggrisnya ‘Apa tuan dan nyonya mau mampir ke candi Prambanan?’ apa coba bahasa Inggrisnya?”
“Tidak tahu”
“Sama aku juga tidak tahu. Tapi aku punya catatan artinya. Sebenarnya, sudah aku hafalin sehari semalam, sebelum menjemput turisnya. Masalahnya, pas sampai di dekat candi Prambanan, aku ingat-ingat kata-kata itu tidak muncul”
“Lha terus, ngomong ke turisnya bagaimana?”
“Ya aku pakai jari menunjuk-nunjuk candi prambanan. Turisnya tidak ngerti maksud ku”
“Terus-terus gimama?”
“Ya aku belokan mobil aku belokan mobil ke arah candi Prambanan. Turisnya jawab ‘wish all. Wish all. Aku tidak ngerti maksud turis itu. Jadi aku tetap jalan menuju pintu masuk candi. Baru aku ngerti setelah turisnya ngomong ‘wish all, wish all’ terus tanganya dilambaoi-lambaikan. Langsung keringat dingin mengalir. Mobil aku putar kembali ke jalan raya.. setelah itu diam”
“Ya ampuuuun... terus turisnya marah gak?”
“Untungnya turisnya tidak marah. Karena sebelum berangkat aku sudah minta maaf, kalau bahasa Inggris ku tidak lancar. Kalau ada kesalahan mohon dimaafkan. Jadi turisnya sudah tahu”
“Terus, setelah itu, masih ngomong apa lagi?”
“Ya masih banyak. Dari kantor travel, juga sudah dikasih catatan, apa saja yang harus disampaikan. Semua bahasa Inggris. Lha ini, aku catat semua ini”

Kakak ku menunjukan beberapa lembar catatan percakapan bahasa Inggris yang ia tulis di aplikasi notes smartphon nya. Aku pun tidak bisa membaca atau mengucapkan dengan benar kosa kata bahasa Inggris itu. Rasanya, lidah Jawa ku kaku, saat mengucapkan bahasa itu. Kakap ku memberi sedikit trik saat melafalkan kosa kata bahasa Inggris. Harus mengurangi huruf ‘R’. Saat aku mencoba mengucapkan dengan mengurangi pengunaan huruf ‘R’, memang nadanya jadi beda. Au tidak tahu, saat mengucapkan nya tiba-tiba muncul kesan, seperti orang yang sok-sokan dan tidak enak.

“Ya memang begitu logat bahasa Inggris. Meskipun susah, meskipun tidak nyaman, kalau mau bisa ya harus belajar dan mencoba”
“Hem... begitu ya. Terus ada kejadian apa lagi mas yang berkesan?”
“Ya masih banyak. Misanya, pas turisnya tanya. ‘Apakah perjalanan masih lama’. Yang ini aku ngerti maksudnya. Tapi, aku tidak bisa mengucapkan jawabanya”
“Lho, terus gimana?”
“Pakai bahasa isyarat lagi”
“Bahasa isyarat bagaimana? Lha kamu mau jawab apa mas?”
“Aku itu mau jawab masih dua puluh kilo meter. Coba, bahasa Inggrisnya dua puluh kilo meter apa?”
“Aku pernah ingat. Tapi sekarang lupa mas.hehehe”
“Halah, gak bisa aja gak mau ngaku. Aku itu Cuma ingat ‘two’ itu artinya dua. ‘ten’ sepuluh. Jadi aku menunjukan dua jari ku sambil ngomong  ‘two, two, two’. Turisnya gak ngerti. Aku ulang lagi dengan menunjukan dua jari ku tambah sepuluh jari ku. Jadi aku ngomong ‘two, two, ten, ten’. Turisnya agak ngerti maksud ku. Terus dia nyambung. ‘twenty minute’. Aku jawab lagi. ‘no, no menit’  turisnya nyabung lagi ‘twenty kilometer’. Aku langsung jawab ‘yes, yes, twenty kilometer’. ‘oh... okay okay’. Waah rasanya plong setelah turisnya bilang oke”
“Waduhh ternyata sudah juga ya. Katanya ada aplikasi belajar bahasa Inggris mas sekarang. Coba dicari saja”
“Apa iya? Namanya apa?”
“Apa ya, kalau gak salah lingo lingo apa gitu kok”
“Iya. Iya nanti aku cari. Selama dua kali aku mengantar turis ini, yang penting kita tidak sok pinter, tidak gengsi saja, turis lebih senang. Sama satu kalau aku, melayani tamu sepenuh hati. Mereka senang, meskipun kita punya banyak kekurangan. Tamu yang kedua itu sudah kakek, nenek. Waktu mau ke puncak Bromo ya tak antar, waktu lewat jalan yang sudah, tak tuntun, tak bawain barangnya. Seperti itu membuat mereka senang”

“Hem... begitu ya. Kalau temanmu yang pinter bahasa Inggris gitu juga ada mas?”
“Ada mbah Karwo namanya, umurnya enam puluh limaan tahun. Menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda sama Bahasa Polandia. Aku benar-benar salut. Aku juga banyak belajar darinya. Masa, kita yang masih muda tidak bisa. Mbah-mbah saja bisa menguasai tiga bahasa.  Kalau ingat mbah Karwo itu, aku mikir. Meskipun, kita orang kampung, merantau, atau saat di rumah kerjaan kita nyangkul, cari rumput, tidak ada salahnya belajar seperti ini. suatu saat kita pasti membutuhkan”. 

Percakapan dengan kakak sepupu ku malam itu, seperti membawa ku ke dunia baru. Dunia belajar, belajar dan belajar. Dunia yang sangat malas sekali aku tengok, apalagi aku masuki atau aku coba. Pengalaman kakak ku itu membuat aku berpikir bahwa, belajar itu tidak mengenal batas waktu dan ruang.

Rombakwin, Jojga 18 Agustus 2016

0 Response to "SOPIR KAMPUNG"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel