Mengharap Sang Pangeran (Part 2)


Marco dan bu Mella, ibunya Dinda, nampak gelisah duduk di kursi, di teras rumah. Lebih dari satu jam mereka menunggu Dinda yang tak kunjung pulang. Padahal hari padahal hari semakin gelap. Bu Mella berkali-kali menelephon dengan handphone nya. Tetapi setelah itu memasang ekspresi kesal. Sepertinya yang di telephon tidak menjawab.

Marco, juga nampak sudah semakin tak sabar menunggu Dinda. Kakinya terus di goyang-goyang. Tangannya mengetuk-ngetuk sandaran kursi. Raut mukanya nampak masam dan giginya berkerut terus menenus. Ia langsung terperanjat berdiri saat melihat sepeda motor berhenti di depan pintu gerbang rumah Dinda.

“Tante, itu Dinda. Siapa cowok itu tante?”

“Ah! Kemana saja anak itu. Di telephon tidak bisa. Jam segini baru pulang. Sabar marco, mungkin itu teman sekolahnya”

“Aku tidak suka dia sama cowok lain seperti itu Tante. Haah... bikin panas hati ku Tante. Sudah, saya mau pulang tante”

“Marco... Marco... Marco...”

Marco langsung nyelonong pergi dari teras dan menemui Dinda di depan pintu gerbang.

“Dinda! Siapa cowok itu?

“Dia Iksan. Teman sekolah ku”

“Pergi kemana saja kamu sama dia? Sampai larut gini baru pulang. Aku cowok kamu Dinda... aku. Bukan dia!”

“Apaan sih Marco. Aku minta tolong dia antarin pulang karena motor ku rusak. Sekarang di bengkel”

“Kenapa kamu tidak bilang aku? Aku kan bisa jemput. Kenapa handphone juga kamu matikan?”

“Rusak!”

“Dinda... Dinda...!”

Tak mau mendengar ocehan Marco lagi, Dinda langsung pergi masuk ke rumah tanpa menghiraukan ibunya. Bu Mella menghampiri Marco yang masih terlihat jengkel.

“Marco, maaf kan Dinda ya. Ibu akan menasihatinya”

“Haah... aku gak mau Dinda kayak gini terus. Ini pasti gara-gara cowok itu. Aku akan buat perhitungan sama dia”

“Sudah-sudah. Tenangkan dirimu. Ayuk, masuk. Ngomong kita omongin baik-baik”

“Tante, aku balik saja. Aku mohon tante, nasihati Dinda. Aku benar-benar cinta sama dia tante. Buatlah mengerti tante”

“Iya. Tante mengerti. Tenanglah, mungkin hari ini dia lagi tidak enak hati”

“Ya sudah tante, saya pamit”

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati ya. Salam buat papa-mama kamu”

“Baik tante” Marco minta pamit dan berlalu menaiki mobil Jeep kesayangannya.

Bu Mella segera menutup gerbang dan masuk ke dalam rumah. Ia memanggil-manggil Dinda namun tak menjawab. Dinda yang tiduran di dalam kamar malas bangun saat mendengar mama nya mengetuk pintu dan memanggil-manggilnya. Ia berpikir pasti, mamanya akan memarahi dia. Dengan terpaksa ia bangun dan membuka pintu kamarnya.

“Dinda, kamu kemana saja. Pulang malah boncengan sama anak cowok. Tidak baik anak perempuan bersikap seperti itu Dinda”

“Ma, motor Dinda rusak. Sekarang dibengkel belum jadi. Masih untung si Iksan mau anterin pulang ma. Kalau gak aku pulang sama siapa?”

“Ah, alasan saja kamu ini. Marco sudah menunggu kamu lebih dari satu jam. Kamu aku telephone juga gak bisa. Kenapa handphone kamu?”

Handphone ku juga rusak ma. Mati”

“Aduh, Dinda... Dinda. Kamu ini makin bandel saja. Marco itu serius sama kamu. Kamu tahu, orang tuanya kayak apa kan? Sama keluarga kita baik, usahanya mapan. Marco anak tunggal yang akan mewarisi semua usaha keluarganya. Mama hanya ingin kelak kamu bahagia Dinda”

“Mama, mama gak tahu apa yang Dinda rasain. Main sama teman di cemburuin, dilarang, gak boleh ini, gak boleh itu. Dinda capek ma...”

“Dinda, itu karena Marco mencintai kamu sayang. Jangan berkeras hati seperti itu. kamu harus memikirkan hubungan mama, papa dengan keluarga Marco. Jangan memikirkan kesenangan mu sendiri Dinda”

“Ah... udah ma, Dinda capek mau istirahat dulu”

“Dinda...”

Tak memperhatikan lagi mamanya, Dinda langsung  menutup kamarnya. Ia berbaring, menangis di ranjang nya. Ingin rasanya ia pergi dari rumah malam ini. Tidak hanya Marco, ibunya pun menlahakan dia terus. Beban hati Dinda semakin berat.
Dinda bangun dari ranjang. Ia pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Setelah mencuci muka, ia duduk di meja belajarnya dan mengeluarkan buku diary. Ia mulai menuliskan kisah sesak hatinya hari ini.

“Hari ini, benar-benar menyebalkan. Aku berharap, orang yang mengaku mencintai aku, bisa menunjukan rasa sayang dan cintanya. Tapi, hari ini, aku tidak mendapat itu. Tuhan, tegakah engkau memberikan aku jodoh cowok yang super protektif seperti itu? aku tidak sanggup membayangkan kehidupan ku kelak tuhan, jika aku harus hidup dengan cowok seperti Marco. Berilah aku kekuatan agar berani melepaskan diri dari cowok seperti Marco. Aku tidak mengharapkan cowok yang kaya raya, punya mobil, rumah mewah, perusahaan besar, anak konglomerat. Aku hanya ingin cowok yang benar-benar menyayangi aku, bisa ngertiin aku. Itu aja tuhan. Kabulkan doa ku ini”

Setelah mencurahkan beban hatinya ke dalam buku diary yang selalu setia menjadi sahabatnya, Dinda segera menaruh buku itu dalam lagi dan menguncinya.

Ia segera merebahkan badannya dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut hingga tak nampak sedikit pun bagian tubuhnya. Dalam tidurnya, ia berharap besuk pagi menemukan kebahagiaan. Bukan kejengkelan seperti hari ini.


Bersambung ...

0 Response to "Mengharap Sang Pangeran (Part 2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel