Menahan Rindu (Part 4)

Roy lenyap bagai ditelan bumi. Sudah seminggu, Dinda dan teman-temanya mencari keberadaan Roy di sekolah secara diam-diam. Mereka menemukan  kelasnya, Namun, dalam satu minggu ini, mereka belum pernah melihat batang hidung Roy. Niat Dinda membuat perhitungan dengan Roy pun terancam gagal.

“Din, kenapa sih kamu niat banget buat perhitungan sama anak itu? sudah satu minggu kita tak berhasil menemui anak itu. Mendingan udah aja deh” tanya Nissa

“Iya. Semangat banget kamu ini. Tidak biasanya, kalau yang berhubungan dengan cowok kamu semangt seperti ini. Pasti ada apa-apanya ini” selidik Verra

“Cieee... jangan-jangan kamu jatuh cinta sama Roy Arlingga Dinda. Hayoo ngaku. Hahaha...” Retno mulai menggoda Dinda

“Ihh... apaan sih. Norak tahu. Hah, baiklah kita sudahi semua ini” jawab Dinda dengan ekspresi pasrah karena gagal.

“Yaelaah... gadis-gadis ini. Dicari kesana kemari eeehh tahu nya nongkrong di sini Tom” ucap Iksan  yang sedari tadi mencari mereka berempat yang ternyata nongkrong di kantin sekolah.

“Ahh... bawel kalian ini. Ngaku aja deh kalau kangen ma kita-kita. Hihihi” ledek Retno

“Kangeng? Heh, sory ya” jawab Tomy ketus.

“Halah... gak usah sory-sory deh. Jujur aja” balas Retno

“Udah-udah kalian ini. eh, Iksan ada apa? tumben nyariin kita” tanya Nissa

“Wah, gawat nih. Barusan ada pengumuman di mading, semua siswa satu sekolahan, harus membuat kelompok beranggotakan 7 orang. Masing-masing kelompok diwajibkan memilih satu kegiatan ekstrakurikuler. Boleh pilih bidang olahraga atau seni” Iksan menjelaskan ke geng nya

“Hah? Kok tiba-tiba ada pengumuman itu? trus kenapa mesti 7 orang sih? Kita kan Cuma 6 orang. Ah, ngaco nih aturanya” sahut Verra

“Ya mana aku tahu. Emang begitu aturanya. Terus gimana ini kita? Mau gak bikin satu kelompok?” tanya Iksan

“Aku sih mau mau aja San kita bikin kelompok. Tapi kita mau pilih apa? olahraga apa seni? Emang kalau pilih seni, suruh bikin apa sih?” tanya Dinda

“Seni itu, boleh bikin Band, Dance, Sama film. Kalau yang olahraga itu suruh bikin klub futsal, voly sama basket” jelas Iksan

“Yeesss kita bikin Band aja. Aku yang goyaaanggg... aseeeekk aseeekk” Sahut Retno semangat sambil menggoyang pinggulnya mirip penari India

“Boleh tuh bikin Band. Aku sih bisa main keyboard. Dinda vokalnya juga oke. Ah, kamu kan bisa main Biola Nis, nah Retno kamu bisa main apa?” tanya Verra

“Jerry bisanya Cuma ngabisin makanan” ledek Tomy ke Retno

“enak aja! Aku bisa Goyang tahu!” jawab Retno dengan nada tinggi sok menunjukan kegalakanya meski gagal dan membuat mereka terawa

“Sudah, kalau gitu, kita bikin band yah. Tapi, masih butuh satu orang nih. Kalau bisa sih yang jago musik terus bisa atur permainan musik kita. Siapa nih yang mau kita ajak lagi?” tanya Iksan

“Hem... aku ada usul. Bagaimana kalau kita ajak Roy Arlingga. Biar Dinda makin dag dig dug. Hahaha” Ucap Retno

“Ya elah Retno, orangnya aja gak ada kamu usulin. Kita Cuma dikasih waktu 1 bulan latihan. Setelah itu seleksi di sekolah. Kalau lolos akan mewakili sekolah maju tinggkat provinsi” jelas Iksan

“Wow, tingkat provinsi?keren...” sahut Verra

“Ya udah nanti deh kita sambil cari-cari. Yuk balik kelas dulu” ajak Dinda.

Dinda dan geng nya kembali ke kelas. Saat mereka melewati samping ruang perpustakaan, sayup-sayup terdengan alunan petikan gitar yang indah. Dinda dan teman-temanya berhenti sejenak, memastikan suara itu memang benar ada. Setelah yakin, suara itu berasal dari ruang perpustakaan, tanpa dikomando, mereka semua segera masuk ke ruang perpus dan mencari asal suara itu.

Satu demi satu rak buku mereka telusuri. Namun, mereka tak menemukan asal suara gitar itu, karena sudah tak terdengar lagi. mereka berkumpul dan memutuskan untuk kembali ke kelas. Saat mereka hendak melangkah, suara gitar itu terdengar lagi. Jelas sekali suara petikan gitar itu. Mereka mendengar suara itu, berasal dari ruang kecil di pojok perpustakaan.

Tidak ada yang bisa melihat siapa yang ada di dalam karena ruang itu tertutup. Iksan melangkah pelan-pelan, diikuti Tomy dan cewek-cewek menguntit dibelakangnya. Retno yang berjalan paling belakang, kelihatan sangat takut. Ia menoleh kanan-kiri dan belakang, Ia takut kalau yang main gitar itu hantu dan menculiknya. Ia bergidik sendiri dan menarik-narik lengan Nissa mengajak kembali. Tapi Nissa tak mempedulikanya.

“Huaaaaa...” Iksan tiba-tiba teriak saat membuka pintu ruang itu dan membuat temannya langsung panik lari tidak karuan.

“San! Ada apa?” tanya Dinda

“Di... di... di dalam Din, di dalam...” jawab Iksan tak jelas

Mendengar diluar ada suara teriak-teriak, Roy Arlingga yang masih memakai cadar hitam keluar. Saat melihat orang yang keluar memakai cadar hitam, Retno teriak dan langsung jatuh. Mendengar teriakan itu, Roy melepas cadarnya. Ia kaget saat membuka cadar, wajah yang ia lihat pertama kali adalah wajah Dinda. Dinda juga bengong melihat Roy. Mereka berdua nampak salah tingkah. Iksan menegur mereka berdua yang malah saling tatap-tatapan saat Retno jatuh pingsan.

“Heh heh... kalian ini malah bengong. Ayuk bawa Retno ke p3k. Dia pingsan ini. Ah ini gara-gara kamu!” umpat Iksan ke Roy
Roy tampak bingung tidak tahu apa-apa melihat kepanikan itu. Dinda segera menguasai diri dan kali ini, ia bersikap dingin ke Roy, ia takut Iksan tahu kalau dalam hati ia seneng akhirnya bisa melihat Roy hari ini. Dinda langsung bersikap tegas ke Roy. Ia bilang Roy harus tanggung jawab karena membuat Retno pingsan.

“Kalau kamu tidak memakai cadar segala, Retno gak akan pingsan. Ayuk sekarang kamu bawa dia ke p3k!” perintah Dinda.

Roy yang masih bingung dan tidak tahu sebab musababnya, hanya manut saja saat Dinda menyuruhnya  membopong Retno ke p3k. Iksan dan Tomy akhirnya ikut membopong juga. Mereka bergegas ke p3k.

“Kenapa sih kamu itu selalu sial kalau ketemu kamu.  haah...! pertama kamu buat aku dihukum. Sekarang kamu buat teman ku pingsan. Kamu harus tanggung jawab!” teriak Dinda di p3k, memarahi Roy.

Roy selalu tak bisa berbuat apa-apa setiap kali berhadapan dengan Dinda. Bahkan, saat Dinda marah pun ia masih saja terpesona dan ia menikmati amarah Dinda yang ditujukan padanya.

“Maaf, aku tidak sengaja Din. Aku tidak tahu. Jangan marah lah...” jawab Roy dengan memasang muka memelas

“Kenapa sih, mesti pakai cadar segala? Bikin orang lain takut, jadinya malah seperti ini kan?” bentak Dinda ke Roy

“Kalau lagi berlatih gitar aku memang begitu Din. Maaf aku tidak tahu kalau di luar ada kalian. Maaf” jawab Roy

“Ya elaaah... kalian berdia ini malah bertengkar. Sudah-sudah, jangan bertengkar. Malu tuh diliatin semut. Hihihi” Sela Iksan

“Ih... apaan sih San. Orang lagi serius malah becanda!” timpal Dinda sewot

“Yaelah Dinda... Dinda... udah jangan bertengkar begitu dong. Bentar lagi Roy kan mau jadi anggota kita, jadi ayo, kalian baikan. Ini demi masa depan kita!” ucap Iksan bersikap tegas

“Hah? Jadi anggota? Anggota apa Din? Trus masa depan apa?” tanya Roy dengan tampang bego, tetapi tak mendapat balasan dari Dinda

“Begini Roy, kita akan membentuk Band untuk mewakili sekolah kita mengikuti kompetisi school indie band tingkat propinsi. Tapi, kita harus mengikuti seleksi dulu dengan band-band lain dari sekolah kita sendiri. Baru yang terpilih akan mewakili maju tingkat propinsi” Iksan menjelaskan dengan penuh semangat

“Waaah... muantaaaapp itu... mantap banget... woke lah kalau begitu” jawab Roy antusias

“No... No... No...” Dinda menyela obrolan kedua cowok itu

“Ya elah Din... kalau kamu gak setuju, kita mau cari siapa lagi. kita tinggal kurang satu orang Dinda” Iksan menimpali ucapan Dinda

“Baik lah. Tapi ada satu syarat yang harus kamu taati dan tidak boleh melanggar Roy” ucap Dinda ditujukan ke Roy.

Roy menunggu kata-kata yang akan di ucapkan Dinda dengan perasaan deg-degkan. Ia membayangkan telinganya akan di jewer. Di kerjain di suruh keliling lapangan sambil meminta maaf ke Dinda. Roy semakin ketar ketir dan menduga-duga syarat apa yang akan diberikan oleh Dinda.

“Ya elah Din, kok malah mondar mandir sih. Apa syaratnya?” tanya Iksan

“Iya bentar aku masih mikir” jawab Dinda

“Hem... lama” jawab Iksan

Iksan pun ikut berpikir. Ia tidak mau hubungan Roy dan Dinda tidak baik dan akan mempengaruhi ban yang akan mereka bentuk. Iksan berpikir keras mencari syarat yang juga masih dipikirkan Dinda. Akhirnya ia menemukan ide yang cemerlang. Ia yakin, usulanya ini akan membuat mereka semakin akrab dan tibak bermusuhan dan tidak akan berdampak buruk pada band nya. Akhirnya ia mengusulkan syarat itu ke Dinda.

“Sudah-sudah ini saja syaratnya. Selama satu bulan full Roy harus melayani kamu. Antar jemput kamu ke sekolah, ke studio latihan dan ke tempat nongkrong kita. Bagaimana?” tanya Iksan

“Wah bagus-bagus. Oke. Setuju. Dan kamu Roy,  gak boleh nolak!” ucap Dinda dengan menatap tajam ke Roy dan sedikit senyum seolah menyimpan rencana tertentu.

Roy hanya diam bingung mendapat ultimatun seperti itu. Ia membayangkan betapa membosankan dan melelahkan menjadi kacung cewek seperti ini. Meskipun pikiranya seolah keberatan karena membayangkan setiap hari selama satu bulan harus melayani cewek seperti Dinda. Namun, hatinya tak bisa menolak.

“Jangan diam saja! sanggup gak?” tanya Dinda dengak akting menggertak

“iii... ia... ia... iaaa sssanguupp...” jawab Roy gugup

“Nah, gitu dong baru namanya tanggung jawab” ucap Dinda dengan senyum penuh kemenanga

“Baiklah, karena sudah deal, mulai besuk kita latihan. Karena besuk hari minggu, tugas kamu, pagi jam 9 menjemput Dinda berangkat ke studio Roy. Okay?” tanya Iksan

“iii iaa... oke” jawab Roy gugup takut Dinda yang menatapnya dengan tajam, marah lagi.

Saat mereka semua meninggalkan p3k, Roy masih bengong memikirkan apa yang baru saja terjadi. Bingung, tidak mengerti dan juga kaget kok bisa seperti ini jadinya. Namun, di sisi lain, ada perasaan senang bisa melihat Dinda, yang sikapnya jutek tapi buat Roy, sikap itu makin membuat Dinda tampak cantik dan mempesona di matanya.

Mendengar bel pulang, Roy langung berjalan menuju parkiran motor dengan hati yang berseri. Ia mulai membayangkan hari-hari indah bersama Dinda.

Bersambung ...

0 Response to "Menahan Rindu (Part 4)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel