Cafe Romeo (Part 1)


“Din, ngafe yuk suntuk nih jam kosong...” Ajak Nisa

“Iya Din, ayuk langsung ke romeo aja. Pasti banyak cowok-cowok cool... di sana ohh...” Retno menimpali Nisa

“Ih, Retno. Cowo mulu kamu ini” Sela Verra

“Aduh... apaan sih kalian ini. Belum juga pulang. Udah pada bingung. Ntar ah, nunggu bel pulang dulu” Sergah Dinda.

“Eh, kita ajakin si Tom sama Iksan ya. Biar ntar kalau ada apa-apa mereka yang maju” ucap Retno

“Ih, mau berduaan sama Tom aja pakai alasan gitu. Ajak deh. Kamu yang bayarin yah” Sahut Verra

“Tapi di cafe jangan kayak Tom and Jerry ya. Duduk manis” Tegur Nisa ke Retno yang seperti Tom and Jery kalau sama Tomy. Tapi mereka berdualah  yang membuat geng itu seru.

“Okay kakak...” Jawab Retno santai dengan memberi kode oke dengan jarinya dan langsung ngeloyor ke meja Tomy dan Iksan.

Seharian Dinda nampak tak semangat di sekolah. Sikap Dinda membuat teman-temanya bertanya-tanya. Retno yang yang biasanya selalu kepo menanyakan ini itu ke Dinda, hari ini tak berhasil mengorek sebab-musabab Dinda tak ceria hari ini.

Jam pulang berbunyi. Mereka berenam, bergegas keluar menuju tempat parkir motor dan berboncengan menuju cafe romeo yang terletak di sekitar tugu Yogyakarta. Lima belas menit dari sekolah mereka, SMA Wijaya yang terletak di sekitar XT SQUER Yogyakarta, ke cafe romeo. Meskipun singkat, bisa boncengan dengan Retno, cewek yang diam-diam ia cintai itu, sudah cukup membuat hati Tom berseri-seri.

Verra yang membonceng Nissa, berkali-kali menggoda Retno yang pura-pura sok cemberut setiap kali di goda tapi tetap tidak mau diajak tukar boncengan. Dinda yang membonceng Iksan hanya senyum-senyum melihat kokocakan sahabatnya itu. Ia selalu merasa sepi saat tak bersama mereka. Hanya ke sahabatnya itu ia bisa mencurahkan, beban perasaanya selama berpacaran dengan Marco.

Dinda tidak suka dengan sifat Marco, yang cemburuan dan over protektif. Hal itu membuatnya risih dan tidak nyaman. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Orang tua Dinda dan orang tua Marco, dulu sudah berjanji jika kelak akan menjodohkan anak mereka, agar tali persaudaraan tidak putus. Setiap kali Dinda mengeluh ke orang tuanya tentang sikap Marco, ibunya selalu mendorong untuk berusaha menjalani lagi dan mengubah Marco agar lebih baik. Dinda bertahan demi orang tuanya.

“Din. ealah... ngelamun. Ayo turun udah sampai” ajak Iksan

“Hehehe iya. Sory” jawab Dinda

Mereka berenam langsung ngeloyor masuk ke cafe dan naik ke lantai dua. Mereka memilih meja di luar, tempat faforit mereka. Dari lantai dua, tugu Jogja terlihat cantik sekali. Belum pesan apa-apa mereka udah ribut selfi rame-rame. Di tenggah keceriaan teman-temanya itu, Dinda masih saja tampak tak semangat. Meskipun, Tomy dan Retno yang dijuluki Tom and Jerry, bertingkah konyol, tetap hal itu tak menarik perhatian Dinda.

“Din, ada apa sih, dari tadi lemes gitu?” Tanya Nissa

“Ah... lagi males aja Nissa. Gak ada apa-apa kok. Udah yuk. Pesen. Aku mau rome lemon”

“Eh, eh, itu kan asam banget. Jangan-jangan. Rome lemon man aja”

“Itu lebih kecut Retno” sahut Verra

“Oh iya. Kalau mau yang kecut-kecut kan gak usah pesan. Tuh, liat Tom. Hahahaha” canda Retno

“Nggak lucu!” sahut Tom dengan ekspresi datar

“Hahahahaha...”

Seketika, jawaban Tom membuat semua tertawa. Kecuali Tom sendiri yang masih memasang ekspresi acuh. Melihat skpresi Tom seperti itu, Retno buru membujuk agar Tom tak bt. Kalau sampai bt, repot, dia tidak dapat boncengan. Tom sama Retno, memang selalu bisa memecah suasana yang sedih jadi ceria. Apa lagi, setiap kali mereka digoda dengan saling di jodohkan, Retno teriak-teriak tidak mau dan menolak. Dan Tom, awalnya akan memasang muka cuek, datar, cool dan tidak memperhatikan Retno. Tapi saat Retno bt, dia bingung dan salah tingkah sendiri.

Tomy sangat perhatian sama teman-temanya. Jika ada yang kelihatan aneh, dia akan mengungkapkan dugaan-dugaan yang menjadi musabab keanehan teman itu, lalu memberinya nasihat dengan bijaksana. Tak terkecuali ke Dinda.

“Din, aku lihat hari ini, kamu dilanda murung. Sepertinya, ada yang mengganggu kalbumu. Tak baik kemurungan itu dibiarkan berlarut-larut Dina. Nanti, akan mengurangi nilai sekolah kamu. Lha mbok cerita sama kita, kalau ada apa-apa”

“Ahh... apaan sih Tom. Apa hubunganya murung sama nilai? Gak nyambung ah ini. Nggak usah ngelucu kamu itu. Gak lucu tau!” samber Retno

“Aduuh... kalian ini. udah ah, jangan bertengkar terus. Aku capek”

“Sudah-sudah, ayuk tos dulu. Ni minuman udah datang. Untuk kebersamaan kita. Tosss” Iksan mengajak semua tos, dengan menempelkan gelas mereka bersamaan.

“Din, benar yang yang dikatakan Tom, kalau ada masalah, cerita sama kita”

“Ah... gak tahu Iksan. Hah... rasanya malas pulang ke rumah

“Ya sudah ke tempat ku aja. Bantu aku masak buat ibu”

“Retno...” lirik Iksan dengan muka serius, seolah memberi peringatan.

“Hehehe... maaf...”

“Kenapa malas pulang ke rumah Din?”

“Hem... Nanti malam Marco mau datang ke rumah. Ketemu bapak sama ibu”

“Wah... kamu mau di lamar Din? Waah... aku juga mau...”

“Ya sudah Tom, ntar malam kamu ke rumah Retno deh. Kita mau kok nemenin. Tuh, Retno udah minta di lamar... hahaha” Canda Verra

“Ihhh... amit-amit gak mau gak mau...”

“Haduh... kalian. Ini lagi serius” tergur Iksan sambil geleng-geleng karena melihat temannya tidak bisa serius mendengar Dinda.

“Memang, ada apa Marco mau ketemu orang tua kamu?”

“Aku tidak tahu Iksan. Ia hanya minta, nanti malam aku di rumah. Dia mau ketemu aku juga orang tua ku. Sudahlah gak usah bahas ini. Malas”

“Baiklah...”

“Iksan, nanti antarin aku pulang ya”

“Siaaapp... ya sudah, ayo Toss.... Tosss”

“Eh, bentar-bentar selfi dulu dong... yuk Tossss” Sahut Retno yang langsung mengabadikan moment itu dengan kamera handphone nya.

Bersambung ...

0 Response to "Cafe Romeo (Part 1)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel