Anak Obe Jek (Part 3)

Di depan gerbang rumah, Dinda nampak resah menunggu ojek online yang dia pesan belum datang. Ia melihat jam di tanganya. Jarum jam sudah menunjuk di angka 07.45. Waktu dia tinggal lima belas menit sudah harus sampai di sekolahan. Sebenarnya, bukan salah, abang ojek nya yang lama tidak datang. Tetapi, pagi ini Dinda bangun kesiangan. Dinda kaget saat motor matic bongsor, berhenti di depanya. Yang mengendarai memakai seragam yang sama denganya.

“Pagi... Dinda?”

“Iya, benar. Siapa ya?”

“Perkanalkan, saya Roy Arlingga. Obe Jek”

“Hah? Kok ojek pakai seragam sekolah?”

“Hehehe biasa... nyambi Nona. Ke SMA Wijaya kan?”

“Iya...”

“Yuk, naik”

Dinda masih bingung dengan apa yang ia lihat. Anak sekolah nyambi ojek online. Ia tak habis pikir, ada yang melakukan seperti itu. Meskipun begitu, ia senang karena tukang ojeknya muda, ganteng pula. Ia menikmati perjalanan nya ke sekolah. Tak menghiraukan lagi akan telat atau tidak. Ia ingin berbincang, menanyakan sekolahkan di mana. Tetapi, niat itu ia urungkan. Batinya, mengatakan, tidak pantas kalau cewek nanya-nanya dulu.

“Kok diem aja sih Non? Hehehe”

“Situ juga diem...”

“Hehehe iya ya” Roy merasa agak kikuk untuk memulai obrolan.

“Lihatin jalanya, jangan liatin spion terus” tegur Dinda, yang membuat Roy malu ketahuan mencuri-curi pandang lewat spion.

“Rame Non. Harus waspada”

“Alah... alasan. Jangan Non ah manggilnya. Dinda aja” jawab Dinda yang dalam hati juga senang, Roy mencuri-curi pandan padanya.

“Oke deh. Siap” Jawab Roy

“Gak telat telat nanti kalau ngojek dulu kayak gini?” tanya Dinda

“Ya gak lah. Nariknya kan yang searah sekolah aja” jawab Roy

“Emang sekolah dimana?” tanya Dinda

“Nih... dah nyampek sekolah ku” Jawab Roy

“Ha? Kamu sekolah di sini juga?” Tanya Dinda

“Iya. Aku anak baru. Baru pindah sekolah” jawab Roy

“Oh... yah... pak... pak... gerbangnya jangan ditutup” teriak Dinda yang langsung turun dari motor Roy, meminta satpam tidak menutup gerbang.

Sayang, meskipun teriak berkali-kali satpam tidak mau membukakan pintu. Dinda menjelaskan ke Roy, kalau SMA Wijaya sangat ketat kalau urusan telat masuk seperti ini. konon, itu dibuat untuk membentuk sikap disiplin para siswa. Jika ada siswa yang telat, satpam, harus melaporkan terlebih dahulu ke guru BK. Guru BK lah yang akan menegur siswa tersebut. Mau tidak mau, mereka berdua berdiri dei depan pintu gerbang, menunggu satpam yang masih melapor ke guru BK.

Roy, yang baru akan masuk ke sekolah itu, agak kaget juga mendengar penjelasan Dinda itu. Ia membayangkan betapa repotnya kalau pagi harus ngojek dulu, terus telat. Pasti akan seperti pagi ini. Ia tidak menduga, sekolah barunya akan seketat ini.

“Heh, kalian berdua. Masuk” panggil satpam itu.

“Terimakasih pak. Maaf ya pak, tadi macet jalanan” satpam itu tidak membalas ucapan Dinda. Ia malah menegur Roy

“Eiittss... dilarang menyalakan sepeda motor saat pelajaran sudah dimulai. Mengganggu. Itu aturanya. Kamu anak baru?” tanya satpam itu

“Oh... iya pak. Maaf. Iya saya anak baru pak. Perkenalkan, saya Roy”

“Hem... nama sih keren. Sayang gak disiplin. Parkir motor di sana. Setelah itu, ke sini lagi. Kalian harus keliling lapangan tiga kali sambil jewer telingga. Ini peringatan dari guru BK” jawab satpam itu tegas

Setelah memarkir motor, Roy kembali ke pos satpan. Dinda masih berdiri di sana. Saat mereka berdua, hendak lari sambil menjewer telingga sendiri satpam itu menegur lagi.

“Eh eh... bukan begitu jewernya. Dinda jewer telinga Roy” tegur satpam itu

“Yah... terus saya jewer telinga bapak?” tanya Roy

“enak saja. kamu jewer telinga Dinda. Bilang kami kapok telat. Cepat laksanakan!” teriak satpam itu makin garang ditambah dengan pelototan.

Kaget karena dibentak Dinda langsung lari dan menjewer telinga Roy. Roy mengaduh kesakitan karena belum siap. Ia tidak berani menjewer Dinda dengan keras. Tanganya hanya menempel saja. ia berharap Dinda juga melakukan hal yang sama. Tapi Dinda menjewer telinga Roy kereas-keras dan sesekali menambahnya dengan mencubit, setelah itu cekikikan melihat ekspresi Roy kesakitan.

“Aduh... jangan keras-keras dong Din...” rengek Roy

“Biarin. Gara-gara kamu aku dihukum” balas Dinda

“yah, kan kita naik motornya bareng” jawab Roy

“kan yang nyetir kamu. Jadi yang salah kamu. pokoknya, nanti kamu harus aku hukum juga” balas Dinda yang merasa aneh, ada perasaan senang menjalani hukuman itu.

Setelah tiga kali putaran, mereka menghadap satpam lagi dan Dinda disuruh masuk kelas. Roy disuruh ke ruang guru. Roy berpikir akan mendapat hukuman lagi. Ia berjalan menuju ruang guru sambil melihat Dinda yang naik tangga menuju ruang kelas di lantai dua.
Sebelum belok, Dinda melihat Roy yang juga menatapnya. Untuk menutupi groginya, tiba-tiba Dinda mengepalkan tangan dan diarahkan ke Roy. Melihat itu, Roy hanya bisa garuk-garuk kepala tidak mengerti maksudnya.

Dinda masuk kelas dengan wajah yang sumringah. Untungnya, saat dia masuk, pelajaran belum dimulai. Verra, teman sebangku Dinda merasa agak aneh melihat sikap Dinda yang tidak lagi seperti kemarin. Senyum-senyum sendiri, terkadang terlihat sedang melamun.

“Heh, Dinda, apa-apan sih kamu ini? senyum-senyum sendiri, kayak orang gila gitu?” tanya Verra

“Hem... kemarin aku cemberut salah. sekarang aku seneng juga salah. terus mesti gimana dong?” jawab Dinda

“Ya gak gitu. Aneh aja tiba-tiba kok cengar-cengir gitu. Hem... pasti ada sesuatu. Cerita dong...” goda Verra

“Ah... apaan sih Ver, gak ada apa-apa kok” jawab Dinda sambil senyum-senyum tak mau menceritakan apa yang ia rasakan

Selama pelajaran Dinda tak bisa konsentrasi. Ia terus teringat Roy. Ekspresi wajahnya yang polos dan merasa bersalah saat ia kerjain, selalu muncul di pikiranya. Dinda mulai penasaran, anak itu sekarang dimana. Dalam hati Dinda berharap Roy satu kelas denganya. Namun, ia tunggu sampai jam istirahat tidak ada tanda-tanda Roy masuk ke ruang kelasnya.

Sampai akhirnya jam pulang berdering pun, Dinda tak melihat batang hidung Roy. Ia segera mengajak Verra, Nissa, Retno, Iksan dan Tomy buru-buru kelas. Ia tidak sabar ingin melihat Roy. Tapi ia malu mengakui perasaan itu. Untuk mengelabuhi teman-temanya, agar tidak tahu perasaan dia yang sebenarnya, Dinda mulai mengarang cerita.

“Gini teman-teman. Tadi pagi aku telat. Aku dihukum harus keliling lapangan tiga kali sambil dijewer telinga ku. Itu terjadi karena ulah anak baru. Roy Arlingga” cerita Dinda

“Ha? Siapa itu Din? Ohhh namanya keren sekali. Pasti anaknya machooo... gagah... oh... Roy...” celetuk Retno

“Ih, Retno apaan sih kalau ada cowok langsung genit” tegus Nissa

“Terus mau kamu apain cowok itu? hem... apa cowok itu yang bikin kamu seharian senyum-senyum sendiri?” tanya Verra penuh curiga, yang seketika membuat pipi Dinda merah menutupi malunya

“eh... enggak enggak. Jangan dengerin verra. Aku mau buat perhitungan sama dia. Aku minta kalian bantu cari tahu anak itu sekarang dimana. Aku mau kasih pelajaran buat dia” jawab Dinda tergesa-gesa.

“Ya elah Din. Kamu ini gimana sih. Kan sudah pada pulang. Coba tengok ke bawah, udah gak ada anak tuh” tegur Iksan.

Mereka semua melongok ke bawah dan sekolahan sudah sepi. Sepertinya, tinggal mereka saja yang belum pulang. Dinda ikut melongok ke bawah dan seketika panik saat melihat satpam mulai menggeser pintu gerbang untuk di tutup.

“eeehhh pak pak pak... pintu pintuu...” teriak Dinda. Mereka semua langsung berhamburan lari mengejar pintu gerbang. 

Dinda pulang dengan rasa penasaran yang tak terjawab. Ia mulai merasa aneh, hatinya terasa menggebu-gebu ingin melihat Roy. Bukan untuk menjewernya lagi. Tapi, ada rasa nyaman dan senang yang tak bisa ia jelaskan. Diam-diam hati kecilnya berharap, bisa sering melihat Roy.

Bersambung ...

0 Response to "Anak Obe Jek (Part 3)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel