PERTARUNGAN MELAWAN IBLIS



Malam itu sepeda motor ku melaju cepat, menembus derai hujan yang tiada henti. Sesekali lampu merah pun ikut aku terobos. Perasaan resah. Tidak enak. Handphon yang ada di dalam saku celana ku,  terus bergetar tiada henti. Firasat ku, ada sesuatu yang terjadi dengan istri ku. Hanya dia yang menghubungi aku dengan cara seperti itu saat ia sedang tidak enak hati. Ingin aku menghentikan motor ku barang sejenak saja. Namun, rasanya hujan memaksa ku untuk melaju lebih kencang agar segera tiba di kos ku.
Benar saja, baru beberapa saat aku memarkir sepeda motor dan melepas jas hujan, handphond yang sengaja aku setting tak ada bunyi itu bergetar lagi kemudian mati. Saat aku lihat di layar handphond, tertera angka 20 panggilan tak terjawab dari istri ku. Segera aku telephon no hp  istri ku yang saat ini tinggal di kampung bersama orang tuanya itu. Namun, yang menjawab bukan pacar ku. Tetapi suara wanita lain. “Maaf, nomor yang anda hubungi, diluar jangkauan”. Beberapa kali aku hubungi jawabanya tetap sama. Aku putuskan untuk mengirim pesan ke dia. Aku meminta maaf, tidak bisa mengangkat telephon dia karena sedang di jalan. Kemudian aku menanyakan, apa yang terjadi kok sampai menghubungi 20 kali.
    “Aku habis bertengkar dengan ibu mas. Waktu bapak ada, aku dituduh mencuri uang ibu ku. Padahal, aku beli bumbu masak pakai uang ku sendiri yang di kasih bapak. Aku ngomong kalau aku tidak mengambil uang ibu. Aku beli pakai uang ku sendiri. Tapi, jawaban ibu tidak enak sekali. ‘uangmu sendiri? Dari mana kamu dapat uang?’. Ya ampuuun... rasanya benar-benar disepelekan, karena sekarang aku tidak punya apa-apa, seperti dulu. Aku sudah tidak kuat. Aku tidak tahan dirumah kalau seperti ini terus. Aku akan pergi dari rumah”
Membaca pesan itu, mendadak rongga dada ku serasa penuh dan sesak. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas. Aku memang belum mengirimkan uang untuknya. Bukan tidak mau, tapi karena belum mendapat bayaran dari mandor ku. Nasib sebagai kuli bangunan, memang seperti ini. Tergantung oleh mandor. Aku segera menenggak segelas air putih, agar bisa tenang dan ada ruang batin untuk mencerna apa yang sedang dialami istri ku itu. Setelah tenang, dan mulai bisa berpikir, aku menanyakan niatnya itu.
“Hem.. terus bapak ngomong apa dik? Apa diam saja?”
“Bapak ngomong, ke ibu mas. ‘kalau ngomong itu hati-hati. Aku ini sudah umur 50 tahun. Sebentar lagi tidak bisa apa-apa. Bisanya minta dirawat anak’. Aku langsung jawab, ‘Ibu pernah ngomong kalau tua tidak akan minta aku rawat pak. Sejak aku kecil ibu bilang seperti itu. aku ingat terus kata-kata itu’. Haahh... rasanya, sikap ibu ke aku tidak seperti ke anak kandung. Aku diperlakukan seperti anak tiri. Haaahhh aku benar-benar tidak kuat mas kalau seperti ini. tidak kuat"    
“Hem... gimana?”
“Besuk aku mau pergi dari rumah ini”
“Terus kamu mau kemana?”
“Aku tidak tahu”
“Haduuuh... hati kecil ku tidak setuju dengan itu. Kalau kamu pergi dari rumah, tapi kondisi batin kamu seperti ini, kamu akan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dulu. Aku tidak setuju”
“Aku sudah tidak sanggup lagi bertahan jika diperlakukan seperti ini terus di rumah sendiri”.
Hm... aku masih tidak setuju dengan keinginanmu itu. Tapi, kalau kamu memang sudah tidak bisa lagi menata hati kamu, aku hanya bisa mendoakan semoga jalan mu benar. Aku tidak bisa ngomong apa-apa lagi”
“Ya sudah, kalau tidak bisa ngomong lagi, aku tidak sms”
“Aku bingung menanggapi keinginan kamu besuk mau kabur dari rumah. Aku ngerasa kamu gak belajar dari pengalaman buruk yang menimpa kita dua tahun yang lalu. Kalau sekarang kamu masih egois seperti ini, dari sudut pandang ku, kamu memang mau masuk ke jurang untuk kedua kalinya. Kalau memang itu sudah kamu niati, silahkan. Aku sudah tidak bisa membimbing kamu lagi. Kamu sudah memilih jalan sendiri”
“Aku sudah nggak kuat yank. Aku nggak kuat...”
“Iya. Aku ngerti kamu gak kuat. Cuma, keputusan kamu besuk mau kabur dari rumah itu, ahhh...“
“Terus aku harus gimana? Pikiran ku buntu. Aku butuh solusi. Solusi. Jangan kamu ceramahi. Aku butuh solusi!”
“Hm... solusinya begini. Kalau besuk kamu mau pergi dari rumah, harus jelas kemana tujuan mu. Mau ke tempat siapa? Punya ongkos apa tidak? Pergi mau minggat apa kerja?”
“Kamu punya solusi gak?”
“Hm... satu-satunya pilihan hanya ke tempat bu lik ku. Di warung sana”
“Terus ngapain aku di sana?”
“Kerja”
“Kamu tahu sendiri seperti apa sikap bu lik waktu aku ikut kerja di sana, terus sekarang, kamu suruh aku ke sana lagi? yang benar saja?”
“Hanya itu yang ada dipikiran ku. Kalau kamu ke sini, jujur aku belum siap. Tidak ada apa-apa di sini”
“Aku tidak akan ke tempat kamu!”
“Saat ini aku belum bisa kamu andalkan. Aku tidak ingin menyiksamu untuk yang kedua kalinya”
“Terus aku harus bagaimana? Aku sudah tidak kuat!”
“Kalau menurutku begini. Tidak apa-apa kamu pwergi dari rumah. Tapi harus direncanakan. Jangan mendadak seperti ini. Bisa kacau nanti. Pikiran dan batin kamu akan kacau rantauan. Aku setuju kamu pergi dari rumah. Tapi jangan besuk. Kamu tidak punya apa-apa. aku tidak punya apa-apa. Bayangkan,  bakal jadi apa kita?”
“Terus aku harus bagaimana? Harus bagaimana?”
“Hm... menurutku kalau keluar dari rumah haru jelas, kemana dan mau apa”
“Jangan mutar-mutar seperti ini. Aku tambah pusing. Sudah kasih tahu saja aku harus kerja dimana?”
“Kalau kamu suka buat cemilan, bisa kerja ikut orang yang buat cemilan. Bisa belajar juga”
“Ya sudah, dimana?”
“Ya, tidak bisa sekarang. Aku harus cari informasi dulu”
“Aku tidak mau kalau harus melamar-lama seperti dulu. Ribet dan belum pasti diterima”
“Hah... lha terus kamu mau kerja apa dan dimana?”
“Apa saja yang penting tidak melamar!”
“Hm... kalau tidak mau kerja yang harus melamar, ya buat usaha sendiri”
“Usaha apa? modal saja kita tidak punya”
“Hm... kalau begitu, satu-satunya pilihan, kerja ikut orang yang tidak perlu melamar. Tapi, itu juga belum tentu cocok dengan pilihanmu”
“Apa sih maksud mu? Satu-satunya pilihan cari kerjaan yang tidak perlu melamar. Tapi itu belum tentu cocok dengan aku. Haaahh....!”
“Lho, aku tidak tahu kamu mau kerja apa? aku juga belum tahu kerjaan apa yang tidak perlu melamar. Aku harus cari informasi dulu! Paham gak!”
“Gak paham!”
“Haaahh...”
“Gimana yang? Aku sudah tidak tahan. Aku tidak kuat. Tadi ibu ngomong, doain aku biar kuwalat kalau berani sama orang tua... aku harus gimanaaa..... ”
“Haah... ya sudah, kalau memang sudah tidak kuat, tidak tahan, lebih baik besuk kamu pergi dari rumah. Yang terjadi biarlah terjadi. Tidak usah mikir akan jadi apa. Besuk kamu ke tempat ku. Bawa bpkb sepeda motormu. Kalau ada apa-apa buat cari hutangan. Kalau kamu sudah tidak kuat, Cuma itu pilihanya”
“Gak tahu, mungkin aku gak akan ke tempat mu. Aku tidak mau merepotkan kamu. Aku harus gimana yang? Hiks hiks hiks...”
“Aku harus jawab apa lagi? semua sudah aku sampaikan. Ahh... kamu ini. Haah. Ini masukan ku yang terakhir.  Kamu jalani silahkan, tidak juga tak apa. Mungkin ini bertentangan dengan pikiran dan perasaan kamu. Tapi, Cuma ini yang bisa aku berikan. Sekarang berdoalah. Kata-kata ku sudah tidak mampu menembus hatimu yang terdalam ”
Dada ku semakin sesak membaca semua pesan masuk di handphond ku itu. Pikiran dan perasaan ku rasanya seperti di kuras habis menanggapi apa yang terjadi dengan kekasih ku itu. Namun, aku terus berpikir bagaimana agar kkekasih ku itu tidak keras kepala. Itu akan menyulikan banyak orang. Tidak hanya dia sendiri. Keyakinan itu lah yang masih menjadi energi ku untuk terus memutar otak. Namun, juga tak aku dapat kan solusinya. Besuk dia akan kabur dari rumah. Ahh... pillihan yang bodoh. Dada ku sesak. Pikiran ku tidak karuan. Hanya memikirkan satu hal, apa yang akan terjadi kalau kekasih ku nekat pergi dan tak jelas arah dan tujuanya. Aku tidak sanggup membayangkan itu. Aku memutuskan untuk berdoa.
“Yang, aku butuh solusi sekarang. Solusi yang kamu berikan itu semua mengawang-awang. Bikin usaha sendiri. Pinjam uang untu modal. Semua itu mengawang-awang. Kalau kamu jadi aku, kamu di posisi ku, bagaimana perasaan kamu. Aku harus bagaimana... haaaahh...”
Pesan masuk itu rasanya seperti teror, yang terus mendesak, mengancam dan mengancam jika tak dituruti maunya. Selama berdoa, handphond sengaja aku taruh di samping ku agar bisa membaca pesannya sewaktu masuk. Membaca pesan masuk itu, tiba-tiba hati ku terdorong untuk membalasnya. Aku tidak tahu apa yang akan di tulis oleh jemari ku. Dan aku membiarkan jemari ku meraih handphond itu dan menulis sesukanya, menjawab pertanyaan kekasih ku itu.
“Kalau aku jadi kamu saat ini, karena aku percaya agama, percaya ajaran agama, aku akan berdoa. Aku akan minta bimbingan, aku akan minta petunjuk, aku akan minta tuntunan kepada tuhan ku. Aku akan minta maaf, ke orang tua yang sudah melahirkan aku ke dunia ini. itu yang akan aku lakukan kalau aku jadi kamu saat ini. Kalau aku tidak bisa melakukan itu, karena hati ku beku, kaku. Hati ku egois. Itu jawaban ku kalau kamu tanya aku! Kalau kamu percaya agama, percaya ajaran agama, berdoalah. Jangan kamu pikir dengan akal mu. Karena masalah mu bukan di akal, tapi di hati!” aku tak peduli lagi apa yang akan dipikkirkan kekasih ku membaca jawaban ku itu. Rasanya sudah mendidih isi kepala ku.
“Hem... iya. Hati ku masih kaku. Aku belum bisa memaafkan sikap ibu ku ke aku. Aku Cuma pingin satu. Menjauh dari ibu ku. Cuma itu”
“Ya, itu. Kamu akan mengulangi masalahmu dulu. Pergi dari rumah karena kebencian. Pergilah kalau kamu mau menantang bara kebencian dalam hati mu yang akan membakar hidup mu. Tidak ada ceritanya benci dengan orang tua, apa lagi yang melahirkan kita,  itu akan membuat hidup kita sukses. Kalau pun suatu saat kamu sukses, kebencian kamu itu akan membakar harta bendamu akan sampai jadi abu. Kalau kamu tidak percaya, cobalah dan buktikan. Tapi, jika itu terjadi, jangan menyalahkan siapapun. Aku sudah mengingatkan kamu. Tapi, hati mu ndablek. Hati mu budheg tidak bisa mendengar lagi”
“Aku gak benci. Aku sayang banget sama ibu. Tapi aku tidak tahu kenapa ibu benci sama aku. Saat ini aku hanya butuh waktu untuk menjauh dari ibu. Itu saja”
“Gak! Kamu tidak butuh waktu menjauh dari ibu mu. Yang kamu butuhkan saat ini, kamu bisa mengatasi perasaan sombong, angkuh dan gengsi mengakui kondisi mu saat ini. itu yang kamu butuh kan”
“Butuh! Aku butuh menjauh dari ibu ku. Dengan menjauh ibu akan mengerti apa artinya aku bagi dia. Aku juga akan mengerti apa artinya ibu buat aku”
“Ya sudah kalau seperti itu pemikiranmu. Buktikan kalau itu memang benar. Kalau besuk mau pergi dari rumah, pergilah”
“Ya. Besuk aku akan pergi. Yang dilihat ibu ku saat ini dan membuat dia tidak senang karena sekarang aku tidak punya apa-apa lagi. Aku sering dibangingkan dengan orang lain yang sukses. Kamu juga hanya melihat aku yang egois. Kamu tidak mengerti, tidak merasakan seperti apa kalau jadi aku!”
“Sudalah tidak usah panjang lebar. Jalani apa yang kamu anggap benar. Aku sudah mengingatkan. Kalau itu tidak ada gunanya, memang bisa ku Cuma mengingatkan. Aku tidak bisa memberi solusi seperti yang kamu inginkan. Kalau itu sudah kamu niati, aku tidak bisa lagi menghalangi. Ya sudah, kalau seperti itu niatmu, maaf dalam kondisi seperti ini aku tidak ada gunanya bagimu. Maaf kan aku. Aku hanya bisa mengiringi langkahmu dengan doa ku. Semoga yang kamu pilih benar dan baik untuk hidupmu”
“Jangan begitulah. Terus aku harus bagaimana kalau kamu sudah lepas tangan seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa lama-lama tinggal di rumah ini”
“Kamu masih bisa mendengar aku apa tidak?”
“Ya sudah, aku tidak buru-buru pergi dari rumah. Aku pikirkan dulu apa yang harus aku jalani. Sebenarnya tidak hanya sekali ini saja aku bertengkar dengan ibu. Sudah beberapa kali. Tapi tidak tahu kenapa, rasanya berat sekali, menerima kenyataan aku tidak disenangi ibu kandung ku sendiri seperti ini. Rasanya seperti anak tiri”
“Begini, seperti apa pun sikap orang tua ke kita, pesan ku hanya satu. Kalau belum bisa menerima sikap itu, berdoalah menghadap tuhan. Tanyakan apa salah mu. Mintalah pentunjuk. Setiap kali mengalami guncangan batin seperti itu, pegang lah itu dan laksanakan. Sepintar-pintarnya akal mu, sekuat-kuatnya batin mu, jiwa mu butuh ajaran agama.  Hanya ajaran agama yang bisa mengatasi iblis yang bersarang dihati kita. Kalau kalah dengan iblis, wujudnya ndongkol di hati. Kalau menang dengan iblis, wujudnya ringan di hari karena menyadari kesalahan kita”
“Hem... iya, aku akan berdoa. Mungkin salah ku, tidak bisa menerima sikap ibu yang membeda-bedakan anak”
“Pasrahkan pada tuhan. Minta petunjukan, minta bimbingan, minta kekuatan agar bisa sayang dengan ibu kamu meskipin sikapnya tidak adil. Masalah mu ini tidak bisa diselesaikan dengan akal. Kalau hanya dengan akal, akan mengulang masalah seperti dulu. Akan bangkrut lagi. Bahkan, bisa dua kali lipat lebih parah. Kenapa begitu? Karena hati mu dan hati ku masih kaku, menghadapi sikap ibu kamu. Kalau hati kita masih kaku, menjalani apa pun akan banyak keliru”
 “Hem... ya sudah, aku berusaha menenankan hati ku dulu”
“Doa lah agar kamu bisa mengatasi perasaan benci itu. Berdoalah agar ibu kamu bahagia, adik kamu bahagia, bapak kamu bahagia. Berdoalah agar keluarga kamu bahagia. Dengan doa, kita akan mengerti kenapa sikap orang itu sepertinya benci kita, apa yang salah dengan diri kita. Kita akan tahu itu”
“Iya, makasih ya yank”
“Iya, aku masih berdoa. Kalau hati kamu sudah tenang, bilang ya”
“Iya. Sudah. Sudah tidak seperti tadi. Aku tak belajar menerima dan diam. Tidak frontal melawan sikap ibu ku. Biar seperti bapak. Di katakain, dimarahin seperti apa pun hanya diam. Aku tak belajar menerima”
“Terima kasih kamu bisa mengucapkan itu. Kamu berhasil mengalahkan iblis dalam hati mu yank. Kamu menang. Kesadaran mu itu akan menjadi kunci kebahagiaanmu. Bagaimana sekarang perasaan kamu?”
“Emmm.... sekarang rasanya enteng sekarang. Tidak seperti tadi. Aku tidak menangis lagi. Dari sore aku hanya bisa menangis. Tadi aku berdoa terus dalam hati”
“Itulah kekuatan ajaran agama. Kalau dilaksanakan bisa membuka dan menerangi hati kita yang gelap” 
“Iya yank. Terimakasih sudah mengingatkan aku”
“Kalau kamu mampu mengatasi perasaan benci sama ibu kamu, kalau sudah waktunya keluar dari rumah kamu dan tidak karena kebencian, kamu akan merindukan ibu mu, adik mu, bapak mu. Kau akan merindukan kehangatan keluarga mu. Percayalah, cinta ke keluarga itu akan menuntuk kita meraih sukses”
“Hem... iya yank. Mulai sekarang, aku akan belajar menerima dan fokus membuat camilan, biar kelak bisa menjadi jalan rejeki dan bisa membuat ibu dan keluarga ku bangga”
“Iya. Jadikan itu niat dan doa dalam hati mu. Selama kita masih berpegang pada tuhan, saat kita diombang-ambingkan nasib, kita akan bisa melewatinya dengan selamat dan bahagia. Kita harus percaya itu”
“Hmmm.... iya yank”
“Ya sudah, sampai di sini saja. Malam ini kita belajar mendidik jiwa kita agar lebih dewasa. Ya sudah, ayo sekarang istirahat. Sudah tengah malam”
“He’em terimakasih ya yank”
“Iya sama. Love u honey...”
“Love u too muacchh...”
Aku mulai mendengar bunyi jangkring dihalaman saat menaruh handphond ku di meja kamar dan segera merebahkan diri di kasur. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besuk. Yang bisa aku lakukan hanya berdoa, semoga yang terjadi besuk yang terbaik buak kekasih ku dan keluarganya.



Rombakwin, Jogjakarta 08 Desember 2016



0 Response to "PERTARUNGAN MELAWAN IBLIS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel