KAU PURNAMA DI LANGIT - LANGIT ANGANKU



Jika Semesta Bicara Beda

Langit dan Bumi tak akan menjadi satu
Meskipun mereka saling jatuh cinta melebihi batas semesta

Rona bintang pun tak kan sanggup menutup benderang rona purnana kala pekat malam membungkus semesta

Terkadang semesta ingin bicara beda
Dan ia, menyimpan rahasia yang tak kan sanggup kita baca
Kenapa ia tak menyatukan raga kita?
Meskipun sukma telah bergulat penuh peluh menapaki bahtera rasa

Ah,
Tak usahlah kita gundah gulana
Percayalah hubungan ini lebih indah
Yang indahnya melewati batas cinta
Batas sayang dan batas rindu

Dan biarlah sejenak sukma kita menjelma menjadi angin
Dan memadu kasih di antara langit dan bumi
Dan saat sukma mu lelah, biarlah ia berlabuh di antara sukma ku
Dan biarlah ia menjadi apa pun

Rombakwin, Wonomulyo 6 Juni 2018



Kau Purnama di Langit-langit Angan Ku

Dalam pekat kau sinari laju hati yang terus menyusuri lorong rasa
tuk temukan muaranya
Sekejap bias cahayamu menyibak desir rasa yang selalu bergejolak
setiap menangkap bayang mu yang semu

Seulas senyumu selalu menggantung di langit-langit angan ku
Dan, tak pernah aku sanggup menepisnya meski sekejap saja

Wahai engkau sang purnama jiwa
Akan kah kau biarkan aku menghayalkan mu semata?
Akan kah kau biarkan aku hanya mampu merabaimu melalui kata?

Mungkin aku harus berhenti di merabai mu dengan kata
Dan menggantung seulas senyum indah mu di langit-langit angan ku

Rombakwin, Wonomulyo 7 Mei 2018


Samudra Rasa

Di ujung timur sang surya merambat pelan
Melumuri semesta dengan cahaya nya yang hangat merayap menyusup ke rongga bumi
Mata ku memandang indah dan elok nya tanah lahir ku ini
Subur dan makmurnya pertiwi ku ini

Namun, kau perlihatkan apa adanya
Tingkah dan polah manusia yang menapaki mu pagi, siang dan malam
Dan itu membuat gelap isi kepala ku

Kau tunjukan gelombang samudra rasa yang pekat warnanya
Ia berarak bergumpal-gumpal menuju tanah lahir ku
Seolah ia hendak menggulung pertiwi ku yang subur dan makmur

Gelombang pekat yang mengikat rasa dahaga dalam jiwa manusia
Rasa yang taka da batasnya
Tak pernah ada ujungnya
Tak ada puasnya

Rasa yang menggulung logika
Membutakan mata
Dan membunuh nurani manusia

Akan kah gelombang rasa itu memuluh lantak kan tanah lahir ku yang subur dan makmur
Akan kah pertiwi ku menjadi lautan rasa dahaga jiwa manusia
Dan membuat mereka berjibaku di dalamnya
Tanpa ia tahu lautan rasa itu kan menjadi lumpur derita yang tak kana da putusnya

Oh, semesta ku…
Kembalikan lah jiwa kami tuk merengkuh mu dengan nurani

Rombakwin, Wonomulyo 11 April 2018




Di Atas Yang Lainnya

Biru langit tak kan indah jikalau taka ada awan putih yang terarak angina
Pun awan putih tak kan meliuk jikalau angin berhenti mengarak

Malam pun kan jadi kelam nan mencekam seolah hendak menutup hari esuk
Jikalau purnama tak menampak kan ujudnya
Purnama pun kan Nampak pucat jikalau kerlip bintang tak bertabur di sepanjang gelap malam

Gerak selaras semesta begitu indah nyatanya

Di antara bintang yang bertabur di gelap malam
Mungkin ada yang hendak menggantikan purnama
Mungkin juga ia tahu ke elokannya di puja manusia
Hingga ia tetap pancarkan kilaunya

Jika berjalan seirama dengan semesta,
Perlukah berdiri lebih di atas yang lainnya?
Tentu indah jika hati sanggup berjalan tegak apa adanya,
Toh yang lain kan menutup celah dan lemah kita

Rombakwin, Megamendung 31 Desember 2017



0 Response to "KAU PURNAMA DI LANGIT - LANGIT ANGANKU"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel