RAHASIA ANTARA BUKU DAN HIDUPKU




Saat menulis ini, saya ingat kampung halaman. Daerah pegunungan yang sangat jauh dari kota jauh dari perpustakaan. Rasanya waktu kecil, buku sangat lah jauh dari saya. Apalagi membaca, sangat jarang. Di kampung saya, sangat jarang orang membaca buku. Budaya membaca tidak begitu pengting bagi saya, mungkin juga bagi orang-orang disekitar saya saat itu. Padalah kalau di sekolah, guru kita pasti sering menganjurkan agar kita rajin membaca sehingga punya banyak wawasan yang luas. Pepatah pun juga bilang, “Buku adalah jendela dunia”. Jadi kalau kita rajin membaca pasti kita bisa tahu isi dunia. 

Meskipun lingkungan saya dulu kurang mendukung (terutama keluarga) untungnya saya masih punya kesempatan untuk berkenalan dengan buku. Saya masih ingat buku-buku pelajaran waktu SMP yang masih saya simpan di kamar saya, di kampung halaman. Padahal, ibu saya dulu sangat membutuhkan buku bekas untuk bungkus nasi yang ia jual. Saya selalu bertengkar sama ibu saat ia meminta buku saya dan mau dipakai untuk bungkus nasi. Saya mati-matian tidak memberikannya meskipun hanya selembar. Akhirnya ibu saya memilih beli Koran bekas. Rasanya owel (tidak rela) memberikan buku itu. Sampai sekarang saya tetap tidak tahu kenapa masih menyimpan buku-buku itu.

Ada beberapa buku waktu masih SMP yang saya simpan. Salah satunya buku materi kursus bahasa Ingris yang pernah saya ikuti selama enam bulan di kampung halaman. Itu pengalaman yang tak terlupakan buat saya. Saat itu, guru kursus saya memberi majalah “Kang Guru Indonesia” yang semua tulisannya bahasa Inggris. Seingat saya, majalah itu di keluarkan oleh Australia-Indonesia Partnership (AIP) yang bertempat di Bali. Sedikit pun saya tidak mengerti isi majalah itu. Dari pengalaman itulah saya terus berusaha belajar bahasa Inggris hingga sekarang. Tapi tetap saja belum bisa berbahasa Inggris, hanya beberapa kosa kata saja yang saya bisa. Yang pasti, majalah dan buku foto copy-an bahasa Inggris dari guru saya yang masih saya simpan hingga sekarang, menjadi dorong dan motivasi bagi saya untuk terus belajar bahasa Inggris. Yang membuat saya kaget, saat mau tes, saya baca, saya pelajari buku foto copy-an dan majalah itu. Eh, begitu tes dan minggu depannya hasil tes di kasih, nilai saya cukup bagus. Dari situ saya selalu menyimpan buku itu. Saya merasa itu sebuah bukti suatu saat saya pasti bisa menguasai bahasa Inggris.

Karena kampung saya berada di tengah-tengah gunung, jadi tidak ada toko buku. Kalau mau beli buku harus ke kota dulu naik angkutan kurang lebih dua jam waktu itu karena jalan belum aspal dan masih susah. Untungnya, dulu teman saya ada yang kuliah di kota Madiun dan waktu pulang membawa buku yang berjudul “Abab Kejiwaan” kemudian dipinjamkan pada saya. Itu buku tentang agama Buddha, yang isinya bunga rampai pembabaran dan pemikiran alm. Bpk.Senosoenoto, seorang tokoh agama Buddha Nichiren Shoshu di Indonesia. Awalnya saya tidak tahu isi buku itu jadi yang penting saya baca aja. Saya masih ingat judul pembabaran yang saya baca. Judulnya “Menghadapi Nasib”. Waktu itu saya lagi dapat masalah dan tidak tahu harus berbuat apa. Maunya lari terus dari masalah itu. Akhirnya saya baca buku itu di dalam kamar. Setelah membaca pembabaran yang ada dalam buku tersebut, muncul keberanian dalam hati saya untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah saya. Akhirnya, saya berani menghadapi dan menyelesaikanya sehingga masalah saya pun selesai. Itu pengalaman pertama saya mendapat suatu pelajaran langsung dari sebuah buku yang akhirnya menjadi penentu langkah saya dikemudian hari. Itu pengalaman pertama saya mendapat manfaat dari membaca buku.

Buku-buku yang saya miliki sangat terbatas. Tapi saya berterimakasih karena masih punya kesempatan untuk terus belajar meskipun tidak melalui pendidikan formal. Saya pernah mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan keagamaan di Jakarta selama enam bulan. Banyak materi pelajaran yang saya dapatkan. Salah satunya saya mendapat kelas menulis selama enam bulan dan diajar oleh seorang Dosen dari Universitas Indonesi. Sungguh kesempatan yang sangat berharga bagi saya. Seperti masuk ke dunia baru setiap kali mengikuti kelas menulis dengan dosen tersebut. Biasanya dikampung bangun pagi hari saya langsung cari sabit untuk potong rumput buat pakan ternak. Ketika mengikuti pendidikan ini, bangun langsung bersiap-siap belajar dan mencari semua buku untuk kelas tersebut. Dari kelas tersebut saya diberi buku panduan untuk menulis judulnya “Menulis Secara Populer” karangan Ismail Marahimin.

Selama mengikuti kelas menulis dan membaca buku tersebut ketertarikan saya terhadap dunia tulis menulis mulai muncul. Saya merasakan gairah baru setiap kali menulis dan sangat ingin bisa nulis di sebuah majalah. Setelah selesai mengikuti pendidikan, saya utarakan keinginan nulis di majalah itu ke teman saya yang sudah sering juga nulis untuk majalah tersebut. Akhirnya teman saya bilang ke redaksi dan redaksi pun memberi saya kesempatan untuk nulis. Senang sekali bisa dapat kesempatan itu. Saya masih ingat tulisan pertama saya yang dimuat majalah itu judulnya “Kawin Cepat Cerai Kilat”. Sungguh, saya tidak pernah menyangka bisa menulis seperti itu.

Karena waktu pendidikan itu sangat singkat, jadi hanya beberapa materi saja yang bisa diajarkan oleh dosen tersebut. Tapi karena ada buku “Menulis Secara Populer” saya tetap bisa mempelajari materi-materi lain yang ada di buku itu. Saya selalu membaca bab yang membahas tentang menulis fiture. Buku itu sangat membantu saya setiap menulis fiture. Sampai saat ini saya masih memakai buku “Menulis Secara Populer” sebagai acuan saya dalam belajar menulis. Itu buku pertama yang mengenalkan saya dengan dunia tulis menulis dan sekarang semakin ingin mendalami dunia penulisan.

Sejak aktif menulis untuk majalah tersebut, saya masih sering mengalami kesulitan dan kebingungan setiap kali mau menulis. Apalagi tugas saya ditambah. Saya diminta juga untuk menulis liputan kegiatan (kegiatan agama) yang ada di daerah.  Jadi, saya harus melakukan wawancara juga ke sumber-sumber tertentu. Saya belum ada pengalaman meliput berita. Saya coba mengatasi masalah itu dengan mencari berbagai artikel yang ada di internet. Baik artikel yang ada di blog maupun website. Tapi belum juga paham. Malah saya semakin pusing karena banyak sekali artikel semacam itu.

Sampai akhirnya saat saya sedang jalan-jalan di tempat penjualan buku bekas di Pasar Senen, Jakarta, tidak sengaja saya melihat buku tentang Jurnalistik. Saya penasaran dengan isinya. Saya segera membaca daftar isinya. Setelah tahu, rasanya tidak sabar untuk segera memiliki buku itu. Namun, karena harganya mahal, saya tidak jadi beli. Akhirnya saya menunggu satu bulan nabung untuk beli buku itu. Genap satu bulan, saya langsung pergi ke shooping buku di Jogja, deket TBY. Saya cari buku yang sama untung ada. Saya tawar sekali dan langsung saya beli. Saya sudah tidak peduli lagi rasanya. Yang penting bisa dapat buku yang berjudul “Pengantar Dasar Jurnalisme” (Scholastik Journalim) karangan Tom E.Rolnicki, C. Dow Tate, Sherri A. Taylor. Setelah mempelajari buku tersebut, saya mulai terbantu untuk mengatasi kesulitan saya. Dari buku itu saya jadi tahu pentingnya menulis artikel atau berita yang sesuai dengan momen atau peristiwa yang akan terjadi dan sangat penting untuk dimuat di suatu majalah. Saya jadi tahu juga teknik wawancara itu seperti apa. Buku ini benar-benar membuka wawasan saya tentang dunia Jurnalisme. Rasa ingin tahu lebih jauh tentang Jurnalisme pun terpupuk setelah membaca buku ini.

Rasa penasaran saya di bidang tulis menulis, terutama bidang jurnalisme makin besar. Tapi juga makin bingun, karena saya tidak tahu apa yang harus di pelajari lagi. Sampai akhirnya saat saat iseng-iseng ke Gramedia saya melihat buku yang berjudul “Menuju Jurnalisme Berkualitas”. Buku itu kumpulan karya Finalis & Pemenang Mochtar Lubis Award 2008. Saya langsung suka dan jatuh hati saat membaca judul dan melihat cover buku itu. Saya berniat langsung membeli, tapi baru sadar kalau tidak membawa uang. Untungnya Gramedia tidak jauh dari tempat tinggal saya. Segera saja saya pulang mengambil uang dan membeli buku itu. Setelah membaca buku itu, saya jadi tahu karya-karya bagus wartawan itu seperti apa. Karya yang paling berkesan dan masih membekas diingatan saya berjudul “The Lost Generation” karya Muhlis Suheri, wartawan Harian Borneo Tribune, Pontianak, kategori pelaporan Investigasi ini benar-benar membuka pengetahuan akan sejarah warga keturunan Cina di Pontianak. Saya baru tahu kalau ada sejarah besar di Pontianak pada tahun 1961-1965. Sejarah pergantian orde lama ke orde baru, peristiwa pengusiran warga keturunan Cina dari pedalaman suku Dayak.

Pelaporan investigasi itu benar-benar luar biasa bagi saya. Dari situ saya tahu, betapa penting dan berharganya sebuah pelaporan investigasi yang akurat untuk diungkap ke publik. Saya jadi tertarik untuk belajar cara meliput berita investigasi seperti wartawan Muhlis Suheri. Itu menjadi motivasi tersendiri bagi saya dan ingin meniru caranya dalam menelusuri informasi. Benar-benar luar biasa. Saya masih berharap suatu saat bisa juga menulis berita Investigasi seperti itu. Dari situ saya merasa betapa begunanya membaca buku, bisa membuka pengetahuan yang luar biasa.

Buku yang baru saja selesai saya baca, membuat saya juga tercengan. Saya tidak tahu siapa itu Yoris Sebastian sebelum saya membaca bukunya. Sebenarnya ini bukan buku saya sendiri. Tapi buku teman saya dan saya pinjam sudah hampir dua bulan. Buku dengan judul “Oh My Goodnes” Creatif Junkies ini, sangat menginspirasi saya. Buku yang mengulas tentang kreatifitas sangat luar biasa dan memunculkan banyak hal baru setelah saya membacanya. Dengan membaca buku ini, saya jadi tahu bagaimana menjadi orang yang kreatif, bagaimana memunculkan ide-ide yang kreatif, bagaimana merealisasikan sebuah ide, bagaimana memecahkan sebuah masalah dari sebuah ide kreatif, bagaimana mendeteksi resiko dan meminimalkan resiko saat akan merealisasikan sebuah ide kreatif. Setelah tuntas membaca buku ini, saya jadi tahu penyebab beberapa ide yang pernah saya pikirkan tapi tidak bisa berjalan. Dengan buku ini juga saya jadi tahu bagaimana menjalankan ide tersebut hingga berjalan. Sampai saat ini ide saya belum siap untuk di realisasikan. Tapi dengan adanya buku ini, saya bisa menyiapkan dan mematangkan ide saya hingga siap untuk direalisasikan. Dari sini, saya jadi tahu, membaca buku bisa mendapatkan inspirasi. Mendapatkan ide dan juga mendapatkan solusi.

Dengan menulis catatan ini, saya baru menyadari dengan jelas kalau selama ini buku-buku itu telah merubah dan membentuk pola  pikir saya yang dulu malas belajar dan malas membaca jadi ingin terus belajar. Kalau tidak ada buku-buku itu, saya yakin pola pikir saya, motivasi belajar saya tidak akan seperti sekarang ini. Sampai saat ini, setiap kali saya merasa mentok dan bingung ketika memikirkan sesuatu, yang pertama kali saya cari adalah buku. Jika saya sudah menemukan isnpriasi atau mendapat gambaran yang membuat pikiran saya lebih terang, saya baru mengutarakan pemikiran saya. Suatu contoh, ketika saya mendapatkan sebuah ide dan mentok, rujukan pertama saya adalah bacaan. Entah itu buku-buku seperti diatas, majalah yang berkaitan dengan yang saya pikirkan dan juga blog yang sudah pasti menjadi rujukan utama saya.

Sekarang, saya mengerti betapa pentingnya membaca. Meskipun hanya selembar, saya berusaha memberi vitamin baru terhadap otak saya agar semakin sehat dan kreatif. Jadi, mari kita tularkan semangat membaca kepada orang-orang di sekitar kita.

Salam

Rombakwin
Jogja, 6 Januari 2011


0 Response to "RAHASIA ANTARA BUKU DAN HIDUPKU"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel