AKU BUKAN PELACUR!



"Ha? Apa kamu sudah gila? Meninggalkan kerjaan yang sudah pasti uangnya dan memilih melakukan hal yang belum tentu hasilnya. Sedangkan, kebutuhan hidup di depan mata tak bisa di tunda. Aku tidak bisa mengerti logika berpikirmu. Bukankah menulis bisa kamu jadikan sampingan". Deg!. Sebagian hasrat jiwaku merasa terpukul. Tidak terima mendengar ucapan terakhirnya. ‘Bukankah menulis bisa kamu jadikan samping’. Sampingan... sampingan... sampingan. Kata itu terus terngiang di telingaku. Setelah sahabat itu pergi, aku pukul dinding tembok, hingga tanganku melepuh.

Cukup! Cukup! Aku harus mengakhiri semua ini. Aku harus mengakhiri dilema berkepanjangan ini. Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Berapa tahun lagi aku harus mengulur waktu atas ketidak jelasan batin ini. Delapan tahun sudah, aku menempatkan sebagian hasrat jiwaku, di sudut terdalam agar tak diintip orang. Mereka akan menertawakan sebagian hasrat jiwaku, yang tak akan menghasilkan rupiah sebagaimana perkerjaan mereka.

Aku tak mampu. Aku tak berani, menampakan dengan terang sebagian hasrat jiwaku itu. Aku tak sanggup, menerima orang-orang mengejek, menertawakan, meremehkan, mencibir dan menghina sebagian hasrat jiwaku itu. Ahh... rupanya, aku masih belum kokoh berpijak di sebagian hasrat jiwaku itu. Belum pantas aku menunjukannya secara terang-terangan. Itu selalu terbesit dibenakku. Dan itu juga yang menimbulkan sebagian otakku menempatkan, sebagian hasrat jiwaku sebagai sampingan. Ya! Sampingan! Hanya sampingan! Cuih..! betapa pecundangnya aku.

Delapan tahun pula aku coba untuk membunuh dan membunuh sebagian hasrat jiwaku itu. Namun, aku juga tak mampu. Aku juga tak sanggup. Jadi, delapan tahun ini apa yang aku lakukan? Tiba-tiba tanya itu muncul. Dan dengan nada menghina, sebagian hasrat jiwaku yang menjawab. ‘Delapan tahun ini, kau hanya mengikuti, kemana kaki orang lain melangkah. Kemana tangan orang lain meraih. Menjalani keinginan dan kehendak mereka. Karena itu membuatmu nyaman, membuat hidupmu terjamin. Kau! Pecundang yang penuh ketakutan untuk mengakui sebagian hasrat jiwamu’. Protes-protes meledak-ledak. Kini, sebagian jiwaku benar-benar membrontak, menindas sebagian jiwa yang lain, meminta tempat yang layak dan terhormat.

Genap tiga puluh hari, aku memberi tempat yang layak dan terhormat untuk sebagian jiwaku itu. Begitu gembira dan bahagianya ia, menguasai otak, hati dan ragaku. Ia sanggup memuntahkan ribuan kata setiap pagi, siang, malam hingga dini hari, tampa rasa lapar, haus dan lelah. Ia terus memerintah dan memerintah bak panglima di medan perang. Tak memberi waktu pada prajurit-prajurit jari, untuk terus menyerang dan menjajah tombol-tombol aksara, hingga tandus tak berbekas cat putih yang menjadi identitasnya. Dalam hati, aku mengagumi kehebatan panglima yang bernama sebagian hasrat jiwaku itu.  Tiga puluh hari ia, bertempur melawan penindasan dan penjajahan sebagian jiwa yang lain, dan hingga detik ini, ia menang. Ia menang dan menguasai segala medan pertempuran. Kini, ia berdiri tegak dan menancapkan panji-panji kemenangan di atas ribuan kata bahkan jutaan aksara yang telah berhasil dimuntahkan.

Aku sadar. Benar-benar sadar. Tidak sedang bermimpi. Tidak sedang berhayal. Aku sadar, aku hidup didunia nyata. Dunia yang butuh makan, minum dan segalanya. Sebagian organ tubuhku yang lain tidak terima atas kemenangan panglima yang bernama sebagian hasrat jiwaku itu. Ia menderita. Genap tiga puluh hari pula ia harus berpuasa. Jikalau pagi, biasanya ia akan menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok yang tergulung rapi. Tapi tidak tiga puluh hari ini. Ia harus terima sebagian kenikmatanya di jarah. Sebatang roko tak ada lagi. Gantinya, ia harus menghisap remah-remah tembakau sisa. Cuiih...! kini aku menjadi gembel dan pengemis. Bangsat!. Protesnya. Tetapi, si panglima seolah membisikan kata yang tiada terputus setiap saat. ‘katakan pada lidahmu yang jahanam itu. Perjuangan ini belum usai. Jika terus memprotes, ku potong saja dia’. Rasanya, ingin kutampar saja si panglima itu. Tapi aku tak bisa. Ia sudah berkuasa dan aku pun menikmatinya.

Sahabat ku yang  lain, tahu dan melihat apa yang aku lakukan. Ada yang menjadi pendukung panglima yang bernama sebagian hasratku itu. Ada yang ragu-ragu, panglima itu akan berhasil membawaku ke puncak kebahagiaan dan kebangaan. Ada juga yang menganggap sia-sia mengikuti hasrat panglima, sedangkan aku terus dimakan usia dan akan terus menua, menua dan semakin renta. ‘Siapakah manusia di dunia ini yang selalu stabil hatinya?’ tanya sahabatku yang lain lewat layanan pesan instan di smartphon ku. Saat ini, panglimaku yang bernama sebagian hasrat juwaku itu, sangat-sangat sensitif bahkan menjurus ke egois dan terus memerintahku semaunya. Seperti saat aku membaca pesan itu dalam hati, ia langsung memerintah untuk tidak menjawab. Tapi balik bertanya. ‘em... siapa ya?’ prajurit jariku melaksanakan perintah panglimaku dengan cepat. ‘Kau! Manusia yang tidak stabil hatinya’. Pertempuran pun  berlanjut. Rupanya, panglimaku tidak terima. Ia langsung memerintah prajurit jari. ‘Iya. Memang aku manusia yang tidak stabil hatinya. Ha ha ha’. Panglima ku menjawab sekenanya. Aku tidak tahu, ia ingin menunjukan apa. Mungkin, ia ingin menunjukan ke sahabatku itu kalau dialah yang berkuasa atas diriku saat ini.

Pagi ini sama seperti pagi biasanya. Aku merebus air untuk menyeduh secangkir kopi. Sebagian organ tubuhku menginginkan itu. Jadi, aku pun melayaninya. Sebagian organ yang lain, masih menunggu waktu untuk menerima jatahnya, sarapan pagi. Untungnya, ia tak banyak protes. Ia terima apa saja yang diberikan untuknya. Tak pernah mengeluh dan tak pernah sakit jika telat barang sesaat. Panglima yang bernama sebagian hasrat jiwaku itu, setiap detik bahkan setiap kejap, terus dan terus memerintah. Satu perintah yang sebenarnya sulit untuk aku laksanakan. ‘Jangan beri ampun organ-organmu yang tersu mengeluh dan meminta belas kasihan. Jika ada yang bersikap seperti itu, aku akan memberangusnya. Tak ada ampun dan tak ada tempat bagi mereka yang bersikap seperti itu’. Perintah itu aku telan meskipun pahit. Aku juga tidak tahu, kenapa begitu manut dengan perintah-perintahnya.

Bagian organku senang, melihat secangkir kopi yang sudah terseduh di cangkir putih bermotif bunga. Bau harum, gurih dan aroma khasnya begitu menggoda. Tak sabar ia ingin menyercapnya. Namun, bagian organ lain memintanya untuk bersabar. Ia lantas menenteng secangkir kopi itu. Berniat membawanya ke meja, agar lebih enak dinikmati.  Belum ada sepuluh langkah, sahabatku muncul dengan tiba-tiba. ‘Sebentar lagi kamu ikut acara ini saja. Cuma sebentar. Paling tiga jam. Lumayan ini, kamu bisa dapat duit, dapat makan’. Jreeeb! Seketika panglimaku bangun. Ia merasa ditusuk tombak beracun. Matanya langsung membelalak melihatku yang sedikit bingung. Menerima atau menolak. Sebagian hati yang lain, dengan wajah memelas, memohon untuk menerima. Lumayan bisa buat sarapan jeritnya. Tetapi suara itu langsung padam, ketika panglimaku menyentil telinganya. Sebagian hatiku  itu langsung ciut nyalinya dan mendepis pasrah, menyembunyikan diri di sudut terbawah. Panglimaku benar-benar tersinggung dengan perkataan sahabatku itu. Ia berdiri tegak seolah menantang dengan panji-panji kemenanganya. Dengan lantang ia memerintahku menjawab sahabatku itu. ‘Aku bukan pelacur! Cuiiihh...’ 

Rombakwin, Jogja 06 Agustus 2016. 09.18-11.43


0 Response to "AKU BUKAN PELACUR!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel